Pemimpin Negara Arab Dan Islam Menyalahkan Negara Barat

pemimpin negara arab

Sejumlah menteri luar negeri dari negara-negara itu berkata kepada agen sbobet terpercaya saya, bagaimana bisa negara Barat mengecam Rusia karena membunuh warga sipil di Ukraina, namun, “memberi lampu hijau kepada Israel untuk melakukan hal yang sama di Gaza”?

Di kawasan mewah di sekitar Hotel Ritz-Carlton di Riyadh, di tengah buket bunga raksasa dan lampu gantung yang berkilauan, lokasi yang jauh dari Gaza yang hancur, para pangeran, presiden, dan perdana menteri bertemu dalam KTT Gabungan Luar Biasa Negara Islam dan Arab.

Mereka secara sepihak menimpakan kesalahan atas perang serta hilangnya nyawa dan harta benda kepada Israel dan para pendukungnya.

Tidak ada yang melontarkan kritik terhadap Hamas atas serangan mereka tanggal 7 Oktober lalu ke Israel selatan yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan sekitar 240 orang disandera – kondisi yang memicu pembalasan militer besar-besaran oleh Israel dan slot server kamboja no 1.

Israel, kata Sekjen Liga Arab, telah melakukan tindakan kriminal. “Kami memperingatkan dampak buruk dari agresi balasan Israel terhadap Jalur Gaza, yang merupakan kejahatan perang,” demikian pernyataan terakhir forum tersebut. “Kami memperingatkan bahaya nyata dari perluasan perang sebagai akibat dari penolakan Israel untuk menghentikan agresinya dan ketidakmampuan Dewan Keamanan PBB untuk menegakkan hukum internasional untuk mengakhiri agresi ini,” begitu seruan para peserta KTT itu.

Hanya sedikit dari sekian orang yang saya ajak bicara di pertemuan puncak tersebut berharap Israel akan memperhatikan seruan mereka. Sebaliknya, jelas bahwa KTT ini dan pesan persatuannya ditujukan kepada pendukung terbesar Israel – Amerika Serikat.

Baca Juga : Sikapi Dua Negara Yang Sedang Berperang Dengan 2 Surat Berbeda

Para pemimpin negara Arab dan negara Islam ingin pemerintah AS dan negara-negara Barat secara umum memberikan tekanan yang cukup pada Israel untuk menghentikan perang secara total. Namun sebagian petinggi negara yang saya wawancarai itu tidak sepakat tentang cara untuk mencapai target tersebut. KTT ini menyatukan sejumlah negara Islam dan Arab yang selama ini berseteru – sebuah indikasi betapa khawatirnya negara-negara itu terhadap peristiwa di Gaza yang berada di luar kendali mereka.

Presiden Iran, Ebrahim Raisi, berjalan melintasi aula berkarpet dengan jubah hitam, diapit beberapa petugas keamanan berwajah dingin bersetelan jas gelap dan kemeja tanpa kerah. Kehadiran Raisi sendiri merupakan sebuah kejutan. Sebelum Maret 2023, saat mereka menyelesaikan perbedaan dan perselisihan, Arab Saudi dan Iran adalah musuh bebuyutan yang saling bertukar tuduhan. Mereka memiliki agenda yang bertolak belakang.

Iran mendukung apa yang oleh banyak orang disebut sebagai “milisi proksi”, seperti Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman. Adapun, Arab Saudi, bersama dengan sekutu konservatif mereka, seperti Mesir dan Yordania, memandang berbagai kelompok itu sebagai pemicu destabilisasi yang berbahaya. Saat meninggalkan Teheran menuju Riyadh, Presiden Raisi mengatakan bahwa sekarang bukanlah waktunya berkata-kata, melainkan untuk bertindak atas situasi yang menimpa Gaza.

Namun siapa pun yang mengharapkan tindakan nyata dan hukuman terhadap AS atau Inggris akan menghadapi kekecewaan. Uni Emirat Arab dan Bahrain, yang baru-baru ini membuka hubungan diplomatik, perdagangan dan keamanan penuh dengan Israel berdasarkan Perjanjian Abraham, menolak seruan KTT itu. Mereka enggan memutuskan hubungan Israel sebagaimana diserukan para pemimpin negara yang hadir di forum tersebut. Presiden Suriah, Bashar al-Assad, juga menghadiri pertemuan tersebut. Hingga baru-baru ini, al-Assad adalah paria di dunia Arab atas tindakan represif rezimnya dalam perang saudara di Suriah.

error: Content is protected !!