Para Tahanan KPK Tak Bayar Pungli Bakal Dikunci dari Luar Jika Tak Bayar Pungli

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus mendalami dugaan pungutan liar atau pungli di Rutan Cabang KPK. Dari hasil pemeriksaan, terkuak fakta bahwa ada ancaman terhadap para tahanan yang menolak membayar pungli.

Hal itu diberi tahu oleh Direktur Penyidikan KPK Asep Guntur Rahayu. Ia mengatakan, para tersangka pungli akan memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan terhadap para tahanan tersebut.

\\\”Bagi para tahanan yang tidak atau terlambat menyetor diberi perlakuan yang tidak nyaman di antaranya kamar tahanan dikunci dari luar, pelarangan, dan pengurangan jatah olahraga, dan mendapat tugas jatah jaga dan piket kebersihan yang lebih banyak,\\\” ujar Asep saat konferensi pers, Jumat (15/3/2024).

Sementara itu, bagi tahanan yang membayar pungli akan menerima privilege bermacam variasi. Salah satunya disebutkan oleh Asep berupa pemberian info saat inspeksi mendadak atau Sidak.

\\\”Modus yang dilaksanakan HK (Hengki) dan kawan-kawan terhadap para tahanan mahjong ways 3 di antaranya memberikan fasilitas eksklusif berupa percepatan masa isolasi, layanan menerapkan handphone dan powerbank, sampai info sidak,\\\” ujar ia.

Asep membeberkan, besaran uang untuk menerima layanan-layanan tersebut bervariasi dan dipatok mulai dari Rp300 ribu sampai Rp20 juta yang kemudian disetorkan secara tunai ataupun melalui rekening bank penampung dan dikuasai oleh \\\’Lurah\\\’ dan \\\’Korting\\\’.

\\\”Mengenai pembagian besaran uang yang diterima HK dkk juga bervariasi layak dengan posisi dan tugasnya yang dibagikan per bulan mulai dari Rp500 ribu sampai Rp10 juta,\\\” ujar ia.

Asep merincikan, AF dan RT masing-masing menerima uang sekitar Rp10 juta. HK, EAP, DR, SH, ARH, AN masing-masing menerima sekitar Rp3 juta sampai Rp10 juta.

\\\”Komandan regu dan anggota petugas rutan masing-masing menerima sejumlah sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta,\\\” ucap ia.

KPK Tetapkan 15 Pegawai Jadi Tersangka
Dalam kasus ini, KPK sudah menentukan 15 orang tersangka yang berasal dari bermacam latar belakang di antaranya Kepala Rutan Cabang KPK, bernama Ahmad Fauzi. Kecuali itu, ada pula Hengki selaku Pegawai Negeri Selanjutnya Dipekerjakan (PNYD) yang ditugaskan sebagai Petugas Cabang Rutan KPK periode 2018 sampai 2022.

Kemudian, Deden Rochendi selaku PNYD yang ditugaskan sebagai Petugas Pengamanan dan Pit Kepala Cabang Rutan KPK periode 2018.

Selanjutnya, Sopian Hadi selaku PNYD yang ditugaskan sebagai Petugas Pengamanan. Selanjutnya, Ristanta selaku PNYD yang ditugaskan sebagai Petugas Cabang Rutan KPK dan Plt Kepala Cabang Rutan KPK periode 2021.

Lalu, Ari Rahman Hakim selaku PNYD yang ditugaskan sebagai Petugas Cabang Rutan KPK. Lanjut, Agung Nugroho selaku PNYD yang ditugaskan sebagai Petugas Cabang Rutan KPK.

Selanjutnya, Eri Angga Permana selaku PNYD yang ditugaskan sebagai Petugas Cabang Rutan KPK periode 2018 sampai dengan 2022.

Sementara itu, sisanya yaitu Petugas Cabang Rutan KPK atas nama Muhammad Ridwan, Suharlan, Dibendung Ubaidillah A, Mahdi Aris, Wardoyo, Muhammad Abduh dan Ricky Rachmawanto.

Tim di Rutan Polda Metro Jaya
Asep membeberkan, 15 orang tersangka pungli ini seketika dijebloskan ke Rutan Polda Metro Jaya selama 20 hari terhitung sejak Jumat, 15 Maret 2024. Penahanan ini dilaksanakan guna kepentingan pengerjaan penyidikan.

\\\” Penyidik menahan para Tersangka dimaksud selama 20 hari pertama, terhitung 15 Maret 2024 sampai 3 April 2024 di Rutan Polda Metro Jaya,\\\” ujar ia.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka Ahmad Fauzi dan kawan-kawan disangkakan melanggar Pasal 12 huruf e Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 perihal Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana sudah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 perihal Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 perihal Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Direktur Penyidikan KPK Asep Guntur Rahayu mengucapkan penempatan para tersangka di Rutan Polda Metro Jaya bukan tanpa alasan. Asep kemudian menyinggung soal aspek psikis.

\\\”Bahwa memang kami sengaja tidak menempatkan di rutan KPK, bagus yang di K4, C1 ataupun di Guntur atau di TNI AL. Ini berhubungan dengan dilema psikis tentunya,\\\” ujar Asep terhadap wartawan, Jumat (15/3/2024).

 

error: Content is protected !!