Isu Utama Kontestasi Parlemen Uni Eropa: Nol Emisi Gas Rumah Kaca Hingga Rivalitas Industri Global

Isu Utama Kontestasi Parlemen Uni Eropa

Negara-negara Uni Eropa (UE) baru saja melakukan pemungutan suara kontestasi https://www.ligamalaysia.net/ untuk memilih 720 anggota Parlemen Eropa berikutnya yang akan menjabat sepanjang lima tahun kedepan. Sebagian besar negara – negara selanjutnya melakukan pemilu di 9 Juni 2024, Belanda di 6 Juni, dan Irlandia, Republik Ceko pada 7 Juni, dan juga Malta, Slovakia, dan Latvia pada 8 Juni.

Parlemen Eropa adalah salah satu berasal dari tiga instansi Uni Eropa yang berkontribusi pada 27 negara anggota Uni Eropa. Lembaga ini akan berwewenang di dalam perumusan kebijakan dan pasar Uni Eropa yang berpenduduk 450 juta orang. Ranah kekuasaan Parlemen Uni Eropa bisa saja tidak seberpengaruh Komisi Eropa ataupun Pemerintah Nasional berasal dari masing-masing negara anggota. Namun, parlemen ini berwenang di dalam menolak ataupun merubah UU secara substansial supaya pernyataan mereka amat membawa pengaruh politik.

Iklim politik Uni Eropa di parlemen kala ini dikuasai oleh partai sayap kanan tengah dan sayap kiri tengah dan juga partai hijau dan liberal diprediksi miliki dominasi yang lebih kecil berasal dari kondisi parlemen sekarang. Sementara bagi partai sayap kanan diperkirakan akan beroleh pertambahan suara di dalam kontestasi ini dibandingkan sebelumnya. Partai-partai yang membentuk kelompok sayap kanan seperti partai ID (Identity plus Democracy) diperkirakan akan mengalami peningkatan perolehan suara berasal dari yang sebelumnya 58 kursi sampai 80 kursi atau lebih di parlemen.

Partai-partai sayap kanan juga partai Alternative fur Deutschland (AfD), partai Rassemblement National (RN) asal Perancis, Partai Lega berasal dari Italia. Namun, 23 Mei lalu, AfD dikeluarkan berasal dari kelompok sayap kanan yang berkatan bersama Nazi SS Force. Peningkatan kuantitas anggota parlemen memetik rasa skeptis berasal dari bermacam pihak tetapi tidak menghentikan langkah UE. Dikarenakan akan mempersulit penerapan kebijakan dan proporsi sumber daya. Peningkatan ini juga dikhawatirkan bepengaruh pada kebijakan UE mengenai prioritas persoalan lima tahun kedepan sebagai berikut:

1. Transisi UE menuju Zero Emmision Gas Rumah Kaca Tahun 2050

Sebagian negara Uni Eropa telah menerapkan pengurangan emisi CO2 dan gas metan di dalam kesepakatan hijau. Walaupun demikian sebagian undang-undang akan akan ditinjau kembali di dalam 5 tahun kedepan.

2. Menjaga Rivalitas Industri Eropa melawan Cina dan AS

Para pejabat UE berargumentasi bahwa persatuan akan memberi tambahan kesempatan yang baik di dalam bersaing bersama ke-2 negara selanjutnya tetapi pihak-pihak yang skeptis akan euro menentang pendekatan selanjutnya karena alasan kedaulatan nasional masing-masing negara anggota lebih diutamakan.

Baca Juga: 7 Negara Arab yang Bisa Mengalahkan Kekuatan Militer Israel

3. Menurunkan Harga Bahan Bakar dan Membuat Suplai Bahan Bakar Lebih Stabil

Ketergantungan UE pada sumber gas yang disalurkan lewat pipa-pipa milik Rusia, mengakibatkan negara Eropa untuk menyegerakan pencarian sumber daya alternatif, makin besar kapasitas penyimpanan dan membangun jaringan listrik sampai melintasi perbatasan. Namun pembahasan ini tetap memetik perbedaan pendapat mengenai seberapa jauh langkah yang akan diambil.

4. Serikat Pasar Uang Untuk Memobilisasi Uang Perusahaan Swasta di dalam Membiayai Prioritas UE

Negara-negara UE telah berusaha menyelaraskan UU supaya tercapainya kemudahan investasi antar lintas negara bagi Perusahaan. Namun keperluan nasional masing-masing negara mengakibatkan perihal ini terhalang karena rasa skeptis parlemen Eropa akan euro dan konsisten berorientasi keperluan nasional.

5. Peningkatan Pertahanan UE

Melihat invasi Rusia ke Ukraina, mengakibatkan para pejabat Uni Eropa berpendapat perlunya pendanaan bersama untuk pengembangan dan koordinasi proyek-proyek pertahanan, yang umumnya jadi urusan pemerintah masing-masing negara. Namun kasus ini tetap kontroversial dan sukar diterima di parlemen Eropa yang lebih skeptis pada euro.

error: Content is protected !!